Archive for Mei 2018

Remake saat ini menjadi salah satu trend yang sedang berkembang di Hollywood. Salah satu perusahaan film yang menganut trend ini adalah Disney. Berbagai macam film animasi Disney yang sempat jadi jawara di hati masyarakat pun mulai dibuat remake nya.
Berawal di periode 1990-an, Disney mulai melebarkan sayap dengan memproduksi banyak hal selain film animasi. Ada produksi Broadway, serial TV spinoff, sampai akhirnya pada periode 2000-an mulai muncul berbagai remake animasi Disney klasik. Diawali dengan munculnya Alice in The Wonderland-nya Tim Burton yang luar biasa menarik hati. Kesuksesan kembalinya Alice kemudian mendorong munculnya Mirror Mirror yang mengambil dasar cerita dari Snow White and The Seven Dwarfs.
Daftar film animasi yang masuk dapur Hollywood kembali pun semakin memanjang. Kali ini di tahun 2014, Cinderella muncul dengan mendapuk Lily James, artis pendatang baru, untuk menjadi sang karakter legendaris. Ada juga The Jungle Book-nya Jon Favreu yang berhasil mendapatkan respon sangat positif hampir dari seluruh kritikus film dunia.
Semua film remake tersebut memang luar biasa. Berhasil mengobati kerinduan kita akan sosok princess yang rupawan, mencari sang cinta sejati. Tapi buat saya masih belum ada yang bisa membuat saya terpesona dan ingin ikut menari ketika menontonnya. Sampai akhirnya pendapat saya itu runtuh seruntuh-runtuhnya dengan dirilisnya Beauty and The Beast.
Remake dari musikal mewah legendaris yang pertama kali rilis pada 1991 ini bagi saya menjadi remake tercantik yang pernah saya tonton. Beauty and The Beast versi live action ini benar-benar menjadi interpretasi sempurna dari tale as old as time—kisah setua waktu. Beauty and The Beast sukses membuat hati saya terasa hangat, mengingat nostalgia saat pertama kali menonton versi animasinya.
Disutradarai oleh Bill Condon, orang yang sama di balik keempat film Twilight Saga, sempat membuat saya ragu. Saya bukan orang yang benar-benar menggemari karya-karya Condon. Apalagi dengan ungkapan awal bahwa ia tak akan mengubah hampir suatu apapun dari cerita aslinya membuat saya agak ragu apakah Beauty and The Beast versinya akan bisa minimal sama menakjubkannya dengan versi aslinya.

Namun kenyataannya, Condon berhasil menampar balik saya dengan menyuguhkan sebuah remakeluar biasa, dengan visual yang luar biasa menakjubkan. Pertama kali melihatnya yang langsung terbersit di benar saya adalah, film ini benar-benar karya Condon. Tone warna, angle pengambilan gambar, bahkan hingga CGI pun semuanya ciri khas Condon. Tone warna yang sedikit pucat dan serigala yang mirip dengan rupa kawanan Jacob Black membuat saya salut dengan Condon yang memiliki ciri khas tersendiri hingga berhasil membuat orang aware dengan hasil kerjanya.
Visual yang ia hasilkan pun luar biasa menakjubkan. Menggunakan tone warna yang pucat malah membuat semuanya semakin indah. Efek bling-bling nya ada, tak berlebihan. Visual terlihat ajaib. Benar-benar membuat saya ingin ikut berada di dalamnya. Entah mengapa semua yang Condon lakukan dalam visualisasinya berhasil membawa Beauty and The Beast jauh lebih hidup.
Dari segi cerita pun Condon hampir tak merubahnya dari versi aslinya. Semua hal manis dalam versi animasi bisa saya temukan di sini. Semua lagunya yang indah, plot cerita yang sederhana, masih sama persis seperti yang saya saksikan lebih dari 1 dekade lalu. Keputusan yang sempat meragukan ini diganjar habis oleh Condon yang berhasil membawakannya dengan komposisi yang pas.
Beberapa kali saya ikut mendendangkan lagu soundtrack yang sudah saya ingat di luar kepala. Misalnya di lagu Be Our Guest yang dinyanyikan oleh Lumiere membuat saya tak tahan untuk tak ikut menyanyikannya. Belum lagi ketika adegan waltz di ballroom legendaris yang diiringi oleh lagu klasik Beauty and The Beast yang dinyanyikan Mrs. Potts (Emma Thompson). Benar-benar membuat hati saya hangat.
Keberhasilan Beauty and The Beast dalam membuat hati saya bernostalgia dengan liarnya tak lepas dari pemeran utamanya yang buat saya berhasil menghidupkan kembali karakter Belle dengan sangat baik. Emma Watson (terkenal lewat kedelapan film Harry Potter) yang didapuk menjadi Belle sukses mengangkat karakter Belle menjadi 1000% lebih rupawan dari versi animasinya.
Beauty And The Beast: Remake Nostalgia Nan Cantik

Setelah menjalani preundingan yang cukup alot, akhirnya aktor pemenang Oscar, Jamie Foxx (Ray, Django Unchained, Baby Driver) resmi bergabung dengan proyek reboot film Spawn sebagai pemeran Al Simmons. Menurut Deadline, sang kreator dan juga sutradara film ini, Todd McFarlane mengatakan bahwa proyek ini akan menjadi sebuah trilogi dan tidak akan memfokuskan pada origin story dengan mengusung rating R yang akan menyajikan banyak adegan keras dan berdarah.
Sebelumnya pada tahun 1997 yang lalu sebuah film live action Spawn pernah diangkat ke layar lebar dan menceritakan tentang Al Simmons, seorang tentara yang dibunuh kemudian kembali hidup sebagai anti-hero untuk bertemu dengan istrinya. Simmons menjual jiwanya kepada iblis neraka bernama Malebolgia untuk melayani sang iblis demi bertemu lagi dengan istrinya. Bernuansa mistis dan kental dengan aroma horor, film ini mampu menyuguhkan konsep lain dalam tema superhero.

Dalam komiknya Spawn menceritakan sepak terjang antihero dari neraka bernama Hellspawn. Karena sisi gelap dari karakter utamanya, dimana ia mendapat kekuatan dari sisi iblis atau setan bernama Malebolgia, tapi berusaha tetap berperang demi keadilan tokoh ini lebih cocok disebut anti hero. Dengan usahanya untuk tetap merangkul sisi kemanusiannya karakter Spawn ini berbalik melawan sisi jahat dari pasukan Malebolgia yangjuga menerornya. Banyak karakter yang muncul kemudian dalam komik ini seperti Angela, malaikat yang datang ke dunia untuk berburu Hellspawn, seperti Spawn penjelmaan Al Simmons.
Spawn muncul pertama kali pada bulan Mei 1992 pada komik terbitan Image “Spawn #1”. Diciptakan oleh Todd McFarlane yang juga bertindak sebagai penulis kisahnya. Dari komik ini kemudian muncul spinoff berupa komik Angela, Curse of the Spawn, Sam & Twitch dan Shadows of Spawn. Serta sebuah film layar lebar pada tahun 1997 dengan pemeran utama Michael Jai White.
Jamie Foxx Akan Memerankan Spawn Di Film Garapan Todd McFarlane

Kiper timnas Spanyol David De Gea sangat antusias menantikan dimulainya Piala Dunia 2018. Apalagi De Gea mengaku punya harapan-harapan tersendiri.
Piala Dunia di Rusia pada musim panas akan mulai bergulir pada 14 Juni mendatang sampai dengan 15 Juli. Spanyol akan memulai turnamen dengan menghadapi Portugal pada 15 Juni.
Selain Portugal, Spanyol juga harus bersaing dengan Maroko dan Iran dalam usaha lolos dari Grup B sekaligus memelihara asa juara. De Gea, yang di level klub membela Manchester United, sudah tak sabar menantikan itu semua.

"Saya sangat antusias menunggu Piala Dunia ini untuk segera mulai. Saya punya harapan-harapan besar dan amat menantikannya. Kami punya timnas bagus dan pemain-pemain top," kata De Gea kepada MUTV.
"Kami menghadapinya setelah fase kualifikasi yang amat bagus dan sekarang bagian terbaiknya, turnamen Piala Dunia-nya, akan mulai."
"Mari nikmati dan menjalani laga satu per satu, berusaha tampil sebaik mungkin, dan semoga saja kami bisa bersaing dan mungkin sekaligus menjuarai Piala Dunia," tuturnya.

Antusiasme David De Gea Menantikan Piala Dunia 2018

Ranie Palma mengawali karier basket sejak SMP. Dia pun mencatat momen istimewa dalam kejuaraan-kejuaraan yang diikuti. Apa saja?
Bagi Ranie, 20 tahun, basket bukan cuma kalah menang. Apalagi, kekuatan basket Indonesia memang masih sulit untuk bersaing di tataran Asia.
Tapi, Ranie bersama-sama pemain timnas dan klub yang dibelanya memiliki prinsip serupa: harus selalu tampil habis-habisan. Maka, bukan hanya gelar juara dari sebuah ajang yang berkesan bagi Ranie. Tapi, pertarungan besar dalam sebuah pertandingan lah yang diingatnya.

"Ada beberapa kejuaraan yang sangat berkesan buat aku. Pertama, Timnas U-16 FIBA Asia di Kolombo, Srilanka 2013. Sebab itu jadi kejuaraan dengan jersey timnas pertamamu. Selain itu, untuk pertama kalinya Indonesia mengirimkan Timnas putri di KU tersebut," kata Ranie.
"Sebelumnya, aku enggak tahu pemain luar negeri kayak apa. Mengesankan saat bertanding dengan Jordania. Pemain yang setinggi aku jadi point guard. Bisa dibayangkan kan center mereka," ujar Ranie. Di alag itu, Timnas Indonesia justru mampu membalikkan prediksi. Mereka menang atas Jordania.
Selain bersama Jordania, Timnas putri Indonesia bergabung dengan Thailand, Kazakhstan, Hong Kong, dan tuan rumah Srilanka. Sayang, kendati juga menang atas Kazakhstan dan Srilanka, Indonesia gagal mendapatkan kesempatan untuk berebut tempat ke level II.

Ini Kejuaraan Basket yang Amat Berkesan Bagi Ranie Palma

Rider Tech3 Johann Zarco kecewa betul dengan kegagalannya di MotoGP Prancis. Zarco bertekad mendapatkan kembali poin-poin yang hilang di MotoGP Italia.
Zarco menjalani balapan untuk dilupakan di Le Mans. Meski start dari posisi terdepan, pebalap Prancis itu mesti retired saat balapan baru memasuki putaran kedelapan.
Insiden itu disebabkan kengototan Zarco sendiri. Ketika menekan Jorge Lorenzo di posisi terdepan, Zarco kehilangan daya cengkeram ban kemudian jatuh. Tanpa meraih poin di balapan kandangnya, Zarco baru mengumpulkan 58 angka tertinggal 37 poin dari Marc Marquez di puncak klasemen.

Akhir pekan ini, Zarco siap menebus kesalahannya itu. Pebalap berusia 27 tahun itu optimistis akan mampu meraih hasil lebih bagus di akhir pekan ini usai hanya finis ketujuh di 2017.
"Mugello adalah sebuah lintasan yang cepat dan sangat menyenangkan. Musim lalu aku kesulitan di sini, tapi musim ini aku mengendalkan motorku jauh lebih baik dan secara keseluruhan, setelah hari Minggu yang buruk di Le Mans, aku ingin kembali mendapatkan hasil-hasil bagus dan banyak angka di kejuaraan, yang mana sangat penting," Zarco mengungkapkan di GPOne.
"Kupikir aku sudah belajar banyak di Le Mans, bahkan dengan kecelakaan yang kualami," tutup dia.
