Rabu, 30 Mei 2018

Remake saat ini menjadi salah satu trend yang sedang berkembang di Hollywood. Salah satu perusahaan film yang menganut trend ini adalah Disney. Berbagai macam film animasi Disney yang sempat jadi jawara di hati masyarakat pun mulai dibuat remake nya.
Berawal di periode 1990-an, Disney mulai melebarkan sayap dengan memproduksi banyak hal selain film animasi. Ada produksi Broadway, serial TV spinoff, sampai akhirnya pada periode 2000-an mulai muncul berbagai remake animasi Disney klasik. Diawali dengan munculnya Alice in The Wonderland-nya Tim Burton yang luar biasa menarik hati. Kesuksesan kembalinya Alice kemudian mendorong munculnya Mirror Mirror yang mengambil dasar cerita dari Snow White and The Seven Dwarfs.
Daftar film animasi yang masuk dapur Hollywood kembali pun semakin memanjang. Kali ini di tahun 2014, Cinderella muncul dengan mendapuk Lily James, artis pendatang baru, untuk menjadi sang karakter legendaris. Ada juga The Jungle Book-nya Jon Favreu yang berhasil mendapatkan respon sangat positif hampir dari seluruh kritikus film dunia.
Semua film remake tersebut memang luar biasa. Berhasil mengobati kerinduan kita akan sosok princess yang rupawan, mencari sang cinta sejati. Tapi buat saya masih belum ada yang bisa membuat saya terpesona dan ingin ikut menari ketika menontonnya. Sampai akhirnya pendapat saya itu runtuh seruntuh-runtuhnya dengan dirilisnya Beauty and The Beast.
Remake dari musikal mewah legendaris yang pertama kali rilis pada 1991 ini bagi saya menjadi remake tercantik yang pernah saya tonton. Beauty and The Beast versi live action ini benar-benar menjadi interpretasi sempurna dari tale as old as time—kisah setua waktu. Beauty and The Beast sukses membuat hati saya terasa hangat, mengingat nostalgia saat pertama kali menonton versi animasinya.
Disutradarai oleh Bill Condon, orang yang sama di balik keempat film Twilight Saga, sempat membuat saya ragu. Saya bukan orang yang benar-benar menggemari karya-karya Condon. Apalagi dengan ungkapan awal bahwa ia tak akan mengubah hampir suatu apapun dari cerita aslinya membuat saya agak ragu apakah Beauty and The Beast versinya akan bisa minimal sama menakjubkannya dengan versi aslinya.

Namun kenyataannya, Condon berhasil menampar balik saya dengan menyuguhkan sebuah remakeluar biasa, dengan visual yang luar biasa menakjubkan. Pertama kali melihatnya yang langsung terbersit di benar saya adalah, film ini benar-benar karya Condon. Tone warna, angle pengambilan gambar, bahkan hingga CGI pun semuanya ciri khas Condon. Tone warna yang sedikit pucat dan serigala yang mirip dengan rupa kawanan Jacob Black membuat saya salut dengan Condon yang memiliki ciri khas tersendiri hingga berhasil membuat orang aware dengan hasil kerjanya.
Visual yang ia hasilkan pun luar biasa menakjubkan. Menggunakan tone warna yang pucat malah membuat semuanya semakin indah. Efek bling-bling nya ada, tak berlebihan. Visual terlihat ajaib. Benar-benar membuat saya ingin ikut berada di dalamnya. Entah mengapa semua yang Condon lakukan dalam visualisasinya berhasil membawa Beauty and The Beast jauh lebih hidup.
Dari segi cerita pun Condon hampir tak merubahnya dari versi aslinya. Semua hal manis dalam versi animasi bisa saya temukan di sini. Semua lagunya yang indah, plot cerita yang sederhana, masih sama persis seperti yang saya saksikan lebih dari 1 dekade lalu. Keputusan yang sempat meragukan ini diganjar habis oleh Condon yang berhasil membawakannya dengan komposisi yang pas.
Beberapa kali saya ikut mendendangkan lagu soundtrack yang sudah saya ingat di luar kepala. Misalnya di lagu Be Our Guest yang dinyanyikan oleh Lumiere membuat saya tak tahan untuk tak ikut menyanyikannya. Belum lagi ketika adegan waltz di ballroom legendaris yang diiringi oleh lagu klasik Beauty and The Beast yang dinyanyikan Mrs. Potts (Emma Thompson). Benar-benar membuat hati saya hangat.
Keberhasilan Beauty and The Beast dalam membuat hati saya bernostalgia dengan liarnya tak lepas dari pemeran utamanya yang buat saya berhasil menghidupkan kembali karakter Belle dengan sangat baik. Emma Watson (terkenal lewat kedelapan film Harry Potter) yang didapuk menjadi Belle sukses mengangkat karakter Belle menjadi 1000% lebih rupawan dari versi animasinya.